Senin, 24 Januari 2011

Koma, setelah 3 tahun hidup (Zimbra mail server) part 1

Pepatah "Tiada Gading yang Tak Retak" memang benar adanya, setelah 3 tahun lebih melayani pekerjaan kami pada akhirnya Zimbra mail server di kantor tiba-tiba bermasalah.

Tiba-tiba saja sekitar pukul 14.00 WIB pada hari senin tanggal 24 Januari 2011, Zimbra Mail Server tidak mampu mengantarkan surat elektronik yang terkumpul. Saya yang baru kembali dari makan siang pada pukul 15.00 WIB (Waktu itu saya agak terlambat turun makan siang (pukul 14.00) karena kesibukan) sontak kaget dan merasa tidak percaya setelah mendapat laporan dari Airlangga (teman bagian hardware & Networking).

Tidak percaya, karena saya yang selama ini meyakini bahwa Zimbra mail server adalah mail server yang handal, stabil, dan saya bangga-bangga-kan tiba-tiba kok bermasalah. Okelah, sejenak saya coba eskalasi masalah. Diagnosa Level 1 menunjukkan bahwa Zimbra mail server running well, hal ini karena user masih bisa akses GUI Zimbra dan melakukan Login. Pada level ini saya masih bersikeras mengatakan Zimbra dalam keadaan baik-baik saja, wong masih bisa diakses kok.

Namun setelah saya coba untuk sent email, bahkan sent email ke alamat email saya sendiri memang email yang saya kirim tersebut tidak bisa sampai, baik di email orang lain maupun email saya. Wah.. ini berarti masalah, tapi tidak tau bermasalah dimana.

Dengan melihat gejalanya, maka saya putuskan untuk masuk pada Admin Console Zimbra, benar saja, pertama setelah login admin console Zimbra menunjukkan Server Status, dimana didalamnya menunjukkan bahwa mail server sedang dalam kondisi koma, hidup iya, mati juga iya.

Dari Server Status dapat terlihat bahwa all service seperti snmp, mta, mailbox, imap, dan antispam running well, kecuali satu service yang down yaitu antivirus. Rupanya inilah yang menyebabkan Zimbra dalam keadaan koma.

Saya jadi ingat sindrom "I don't like Monday", sepertinya hari senin merupakan hari yang keramat dan memang menurut pengalaman saya permasalahan kerap kali menumpuk di hari senin. Baiklah, masalah sudah terlanjur muncul maka harus diselesaikan.

Mengingat Mail Server merupakan salah satu urat nadi media komunikasi antar cabang di perusahaan tempat saya bekerja, maka menuntut saya untuk bisa segera memulihkan mail server yang sedang "koma" ini.

Setelah melakukan pemeriksaan masalah lebih dalam, tiba-tiba saja saya teringat salah satu artikel dari blog Mas Vavai (vavai.com) yang berjudul End of Life untuk ClamAV 0.94 pada Zimbra 5.0.16 atau Versi Sebelumnya , ClamAV Zimbra mail server tempat saya memang masih menggunakan versi 0.93 dan waktu saya baca artikel tersebut yang diposting tgl 4 Feb 2010 saya malah adem ayem saja karena saya pikir mail server saya masih baik-baik saja. Betapa bodohnya saya, sudah diperingatkan tapi tidak saya indahkan.

Pada artikel tersebut, disebutkan dampak dari habisnya masa hidup ClamAV 0.94 adalah Zimbra tidak akan menghantarkan email-email yang masuk, karena komponen AntiVirus pada Zimbra statusnya berubah menjadi down alias inactive, sehingga semua email statusnya Deffered (atau ditangguhkan). Ada 3 cara untuk mengatasi hal ini menurut artikel dari mas Vavai, yaitu :
  1. Meng-upgrade Zimbra Mail Server dari versi 5.x.x menjadi 6.x.x (Cara ini tidak bisa saya lakukan mengingat mendesaknya waktu yang menuntut mail server harus segera running kembali karena user di seluruh kantor cabang sudah komplain ke bagian IT).
  2. Me-non-aktif-kan komponen Antivirus melalui zimbra admin (Tidak mungkin saya abaikan komponen antivirus, karena ini merupakan pertahanan penting dan selama ini terbukti efektif untuk menangkal penyebaran virus yang mendompleng via email user)
  3. Melakukan update ClamAV ke versi terbaru (Cara ini terdengar lebih tepat untuk mengatasi masalah saya, karena secara estimasi merupakan cara yang lebih cepat dan tepat).

Intinya, saya harus segera melakukan langkah update ClamAV versi terbaru agar Zimbra Mail Server dapat kembali running. Ini berarti penanganan Level 2 harus saya lakukan. Segera saya cari info mengenai cara update ClamAV dan beruntung sekali langkah-langkah update tersebut dapat ditemukan di situs resmi ClamAV (www.clamav.net) lengkap dengan source code update ClamAV versi terbaru yaitu ClamAV 0.96.

Setelah download source code ClamAV 0.96 segera saya ikuti langkah demi langkah untuk mengupdate ClamAV 0.93 menjadi ClamAV 0.96, syukur Alhamdulillah mulai dari tahapan compile, instalasi, hingga updating dapat saya ikuti dengan lancar dan tanpa kendala karena memang semua dependencies yang dibutuhkan untuk proses updating ini telah ada pada Distro OpenSuse 10.3 yang saya pakai sebagai tenaga penggerak "kapal induk" Server perusahaan tempat saya bekerja.

Akhirnya, tepat pukul 16.29 WIB pada hari itu (24 Januari 2011) Zimbra Mail Server telah kembali pulih dan bangun dari "koma" , Saat itu juga Zimbra mail server telah mampu back in action, email-email yang sebelumnya sempat dalam status "deffered" tinggal kita lakukan "Requeue" dan semua email dalam status deferred akan terkirim.

Memang pengalaman tetap menjadi guru yang berharga, namun lebih dari itu ketenangan, kesabaran, serta kejernihan pikiran tetap dibutuhkan untuk mampu mengatasi masalah dengan cara yang tepat. (jeka)

Jumat, 14 Januari 2011

Cemas di Jawa Timur, Pusing di Jawa Tengah

Angka 12 benar-benar menjadi angka keramat bagi saya di bulan ini (bulan Maret -red). Betapa tidak dalam satu hari itu dua cobaan menghantam sekaligus, bahkan menjadi pukulan yang besar bagi perusahaan tempat saya bekerja. Namun menjadi tantangan besar bagi saya untuk menyelesaikannya.

Dua cobaan tersebut berupa kegagalan sistem dalam memproses File Kirim untuk kepentingan Laporan ke Bank Indonesia. Kegagalan dengan resiko denda materi yang tidak sedikit itu menghantam ulu hati dan menyesakkan pikiran karena saya harus beradu cepat dengan waktu yang mengharuskan laporan tersebut harus terkirim hari itu, Jika tidak, konsekuensinya perusahaan atau lebih tepatnya kantor cabang yang bersangkutan harus membayar denda keterlambatan kepada Bank Indonesia.

Meski kepala ini sempat pusing selama 3 jam lebih memikirkan masalah penyebab kegagalan, namun Alhamdulillah ketika masuk jam istirahat makan siang masalah sudah berhasil ditemukan.

Sedikit lega hati ini, masalah yang tersisa tinggal membenarkan data-data yang salah tapi tidak mengapa, yang penting masalah sudah ketemu. Akhirnya saya gunakan ilmu telaten tur kelakon saya update data satu per satu meski banyak tabel yang harus saya update tapi tidak apa-apa.

Kesabaran memang membawa hasil, masuk waktu sholat Ashar masalah telah benar-benar selesai, aplikasi telah berhasil membentu file kirim dan berhasil melakukan laporan ke web site Bank Indonesia dan telah diterima dengan baik oleh server Bank Indonesia. Amiin Masalah no.1 telah selesai.

Namun, ketika masuk waktu sholat Maghrib mendadak ada telepon dari Cabang di Jawa tengah menyampaikan bahwa masalah serupa dialami oleh mereka.

Alamak!!!, padahal ini sudah malam dan sudah hampir waktunya pulang, ya sudahlah dengan sabar dan penuh pengorbanan saya ikhlaskan hati untuk membantu cabang yang bersangkutan.

Setelah melakukan korespondensi masalah dengan Korban, ditemukan bahwa masalah yang dialami sama dengan salah satu cabang di Jawa Timur yang saya tangani tadi siang, yaitu sama-sama gagal dalam membentuk file kirim namun dengan penyebab masalah yang berbeda.

Untuk mempersingkat waktu karena sudah malam, saya putuskan untuk mengambil jalan pintas (meski ini melanggar hukum) tapi saya lakukan dengan sengaja dan penuh tanggung jawab untuk meng-update database, agar menjadi bisa dijalankan di aplikasi.

Sekali lagi, ilmu telaten tur kelakon terpakasa harus di keluarkan untuk memecahkan masalah ini, cukup 15 menit akhirnya database telah terupdate, namun untuk lebih mempercepat proses penyelesaian masalah, database tersebut saya running di aplikasi serupa yang ada di komputer saya.

Alhamdulillah, aplikasi telah mampu membentuk file kirim dengan baik dan benar. Setelah mendapat konfirmasi kebenaran dari cabang yang bersangkutan, segera saya email file Kirim tersebut ke cabang agar dapat segera di lakukan pengiriman laporan melalui Website Bank Indonesia.

Alhamdulillah, proses pengiriman via Website berhasil dengan baik, dan mendapat konfirmasi dengan baik pula.

Akhirnya masalah selesai dan saya harus pulang, bukan karena sudah malam tapi karena banyak kawan-kawan "HALUS" yang terus menggoda saya, mungkin mereka penasaran, mungkin mereka senang ada teman, atau mungkin mereka terganggu karena ada pengganggu di waktu mereka beredar, entahlah ....andai saja ada acara Uji Nyali pada saat itu mungkin saya sudah melambai ke kamera. hihihihiiihiiihiii......


Masalah selesai , aku harus pulang. satu yang pasti, saya telah menyelamatkan kantor ini dari denda materi yang cukup besar, kalau dinilai dengan benda mungkin bisa dapat 2 sepeda motor bebek Jepang. Saya tidak minta imbalan, tapi saya minta kepada perusahaan untuk lebih memperhatikan kesejahteraan kami, sekarang atau tidak sama sekali.

Gracias !!!!!

Rabu, 28 Juli 2010

Merenungi hari ini

Hari ini adalah tanggal "Paycheck" tapi entah kenapa cuaca di luar surabaya sedang mendung, apakah ini pertanda kehidupan kedepan akan suram penuh dengan liku-liku.

Apakah sebulan kedepan nanti kondisi keuangan tidak serba kekurangan seperti bulan ini dan kemarin ??? nobody know's...

Langit yang mendung diiringi hujan rintik sesekali membuat tanggal gajian tidak seindah seperti seharusnya, ada kekhawatiran disana. Karena segala keperluan di bulan depan sudah menunggu untuk dibayar.

Lalu dapat apa kita nanti... harapan saya, minimal saya ada uang tersisa untuk makan dan memelihara kehidupan ibu dan adik-adik yang ku-tanggung selama satu bulan kedepan sampai datangnya tanggal gajian lagi. Sambil berharap tidak ada kejadian mendadak yang memerlukan biaya besar.

Apalagi momen bulan depan adalah Ramadhan, dimana harga semua bahan pokok dan barang-barang lain beranjak naik. Kita hanya bisa bersabar dan tawakal, berusaha mencukupkan penghasilan yang kita peroleh agar mampu menjawab setiap pundi-pundi kebutuhan hidup.

Ramadhan memang momen spesial, meskipun banyak kesulitan yang harus kita lalui dari sekedar menahan haus dan lapar, namun dibalik itu semua Allah SWT menjanjikan limpahan kenikmatan dan pahala.

Ramadhan memang mengajarkan kita untuk lebih bersabar, ikhlas, dan tawakkal.

Harga-harga boleh naik, Pikiran boleh pusing karena mengatur pengeluaran, tapi kita harus tetap sabar, ikhlas, dan tawakkal.

Rejeki Alloh itu datang dari arah yang tidak disangka-sangka, siapa tahu esok hari ada perusahaan besar yang menerima surat lamaran saya... Sehingga penghasilan bisa naik.

Siapa tahu esok hari ada peluang bisnis ... sehingga ada penghasilan tambahan.

Marhaban Yaa.. Ramadhan.

Jumat, 23 Juli 2010

Ketika "Pawang" Listrik Berbicara


Mungkin tidak banyak figur seperti yang satu ini, yang mau bicara apa adanya dan mencerminkan dedikasi tinggi terhadap apa yang sedang dikerjakannya.

Sosok ini adalah seorang Dahlan Iskan, sang "Pawang Listrik" di Indonesia.

Dari hasil wawancara di TV-One dalam satu acaranya yang bertajuk "Apa Kabar Indonesia" pada tanggal 22 Juli 2010. Dahlan Iskan memberikan jawaban atas peristiwa meledaknya Travo PLN yang "me-nyetrum" rumah-rumah warga di salah satu kawasan di Jakarta (saya lupa kawasan mana... ). Beliau mengatakan bahwa peristiwa tersebut wajar adanya, mengingat Travo adalah perangkat yang memiliki tingkat kepanasan yang tinggi ditambah lagi dengan beban yang di-emban satu travo yang saat ini melebihi tingkat ambang batas kemampuannya.

Sehingga travo tersebut bekerja ekstra keras dan menyebabkan travo meledak akibat tingkat panas yang tinggi (Jangankan Travo.. Manusia saja jika di beri tekanan terus menerus pasti meledak, alias lepas kontrol).

Dalam menjawab pertanyaan presenter tentang peristiwa meledaknya travo PLN ini, Dahlan Iskan benar-benar memberikan jawaban yang gamblang, apa adanya, dan dengan kalimat-kalimat yang sederhana sesuai fakta yang ada tanpa dibumbui oleh kalimat-kalimat naif yang bertujuan untuk menghindarkan orang yang berkata-kata dari tudingan bersalah.

Justru kalimat-kalimat yang dikeluarkan sang "Pawang" ini menunjukkan bahwa kesalahan justru ada pada dirinya.

Dalam satu kalimatnya Dahlan Iskan mengatakan bahwa.. Dia menyesal, dan sangat menyesal.

sontak sang Pembawa acara yaitu mbak Tina Talisa bertanya dengan nada penasaran "Kenapa anda menyesal..??"

"Ya... saya menyesal, kenapa dulu waktu pertama kali saya menjabat sebagai Dirut PLN tidak mengambil langkah pembelian Travo-travo dalam mengatasi masalah "byar-pet" di negeri ini" jawab sang "Pawang".

"Kalau saja saya berani, waktu itu saya sudah melakukan pembelian langsung secara besar-besaran ke pabrik, entah itu berupa Travo baru ataupun bekas yang layak pakai, meskipun hal itu melanggar aturan yang berlaku." lanjut Dahlan Iskan.

"Namun dengan demikian, dengan adanya travo-travo baru dalam jumlah besar maka tidak akan lagi permasalahan listrik yang padam di negeri ini, karena sudah tersedia travo-travo baru yang menggantikan travo lama, ditambah travo-travo backup yang siap pakai.Namun resikonya, setalah itu saya harus dipenjara karena memang hal itu (-pembelian langsung-) melanggar aturan" kata Dahlan Iskan.

"Ohh.. berarti bapak menyesal tidak melakukan hal itu...??" jawab sang pembawa acara,

"Ya... saya menyesal" jawab Dahlan Iskan

"Meskipun resikonya dipenjara lho pak...???" kata pembawa acara

"Ya... tidak masalah, lebih baik satu orang yang masuk penjara daripada jutaan orang kesulitan karena tidak adanya aliran listrik" jawab Dahlan Iskan dengan tegas.

"Wow... bapak berani sekali..." kilah sang pembawa acara. "Ya mengapa tidak???, bahkan hal itu sudah saya lakukan dengan adanya peristiwa di Palu... saya langsung membeli travo untuk mengatasi hal tersebut, saat ini masalah listrik di Palu sudah teratasi, dan itu nyata-nyata diri saya melanggar aturan dan bisa dipenjara" jawab Dahlan Iskan.

"Ohhh... Jadi bapak tidak takut nih di kejar-kejar oleh KPK dan pihak berwajib yang lain terkait masalah tersebut, ini disiarkan langsung lho pak... dan ditonton oleh banyak orang" tanya sang pembawa acara.

"Tidak... gak pa-pa, emang kenyataanya gitu kok, bahkan istri saya sebenarnya tidak setuju ketika pertama kali saya ditawari jabatan Dirut PLN ini" kata Dahlan Iskan, "Katanya... nanti kamu bisa dipenjara seperti orang-orang itu lho" lanjut Dahlan Iskan menirukan perkataan istrinya.

Begitulah sedikit kutipan wawancara "Sang Pawang Listrik". Saya sendiri sampai terbelalak melihat dan mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari ucapan Dahlan Iskan. Kok ada ya orang yang berani mengambil sikap melanggar dan mengungkapkannya di depan publik secara on air.

Meskipun saya tahu, bahwa sikap melanggar yang diambil Dahlan Iskan adalah kepentingan yang sangat mendesak dan demi kepentingan Hajat Hidup Orang Banyak. Tapi mana ada gitu lho.. orang yang bilang bahwa dia mengambil langkah melanggar hukum dan siap di penjara....

Ironis bukan ??? Kalau toh esok hari hal tersebut menjadi masalah... apakah sang pawang dianggap bersalah atau justru menjadi orang yang benar ????

Silahkan anda menilai sendiri. Namun saya berdoa semoga itikad baik mendapat sambutan yang baik.

Amiiinnn.. allohuma amiiiin..

Jumat, 12 Februari 2010

Indonesia dan industri musik


Bismillah hirrahman nirrohiim..

Sangat tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini Indonesia tengah mengalami degradasi hampir disemua bidang , mulai bidang ekonomi, politik, budaya, hingga norma luhur bangsa.

Penurunan di bidang ekonomi merupakan pukulan yang sangat telak bagi bangsa ini, yang pada akhirnya menimbulkan efek domino menyebabkan bangsa ini tidak lagi mementingkan siapa saudara dan yang penting perut sendiri kenyang.

Namun bukannya para pemimpin bangsa ini tertidur dan tidak perduli terhadap situasi negara, karena saya yakin beliau-beliau juga berpikir keras mencari cara bagaimana agar bangsa ini bisa pulih dan bisa hidup tenang.

Sejak "Krismon" (Krisis Moneter) melanda dunia, tidak sedikit industri di Indonesia yang gulung tikar terutama industri mikro yang rentan terhadap situasi makro ekonomi. Hingga saat ini sepertinya Industri milik anak negeri seakan-akan tertidur lelap hampir tidak bernafas.

Akan tetapi tanpa kita sadari, ternyata ada satu industri yang perlahan-lahan tumbuh dan berkembang. Industri tersebut adalah industri musik.

Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa belakangan ini seniman-seniman dan pelaku dunia musik semakin gencar menelurkan maha karya-nya sehingga semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Banyak sekali warna-warna baru di dunia industri musik yang tentunya memiliki nilai jual yang tidak bisa dibilang murah. Bahkan tidak sedikit penyanyi maupun grup musik yang eksistensinya berkibar hingga ke negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura, hingga Filipina yang notabene merupakan negara di Asia Tenggara yang industri musiknya sudah jauh lebih maju dari Indonesia.

Bahkan fakta yang ada saat ini menunjukkan bahwa musik-musik Indonesia merajai tingkat tangga lagu di negeri Jiran dan Singapura.

Sebenarnya perkembangan pangsa pasar industri musik Indonesia hingga ke negara-negara Asia Tenggara dan negara Asia lainnya telah dapat ditebak sejak lama, hal ini se-iring dengan semakin banyaknya rakyat Indonesia yang mengadu nasib di negara-negara Asia sebagai TKI/TKW.

Mereka berangkat dengan mengusung musik-musik hasil karya seniman Indonesia dan memperdengarkannya ke telinga masyarakat di negara tempatnya bekerja sehingga hal tersebut menstimulus masyarakat disana untuk mencintai musik Indonesia.

Jika saja pemerintah lebih jeli untuk mengelola industri musik dengan baik, saya yakin industri ini akan mampu memulihkan perekonomian Indonesia dan membangunkan sektor industri lain yang saat ini sedang enggan untuk mengangkat lengannya dan berteriak Majuuuu !!!!!





NB.
oleh karena saat ini marak sekali pihak-pihak
yang menggugat karya-karya dan pendapat-pendapat
yang di posting di internet,

maka saya bermaksud menyampaikan bahwa :
tulisan saya ini tidak bermaksud untuk
mendiskreditkan pihak siapapun atau manapun
dan tidak hendak melecehkan pihak siapapun dan atau manapun
jika terdapat tulisan yang dinilai mendiskreditkan atau melecehkan pihak lain,
maka,
saya meminta maaf sebelumnya
karena
tulisan ini merupakan murni hasil telaah pribadi saya
tanpa ada maksud menyerang pihak-pihak tertentu.

Wassalam-

Jumat, 05 Februari 2010

Tugas 2

Rossa was trying out a new job as a singer outside activities. It is not far from the world of music because she is trying to be a producer of religious album titled The Penciptaku Volume II.

The album was released by 512 Productions, a record label she founded with a friend. Filler album is not just any singer, because they are the players rated soap opera which has the potential for singing. They are Intan Nuraini, Revalina S. Temat, Asmirandah, Melanie Putria, and several other singers. According to Rossa, this is one of the steps taken to help regeneration in Indonesia's music. Besides, this business is more profitable because the artists name was already known to the public so much easier promotion.

Rossa also revealed, all the artists under the label will launch their career from zero. She hopes that everyone can be seriously pursue these new areas. It takes struggle, but Rossa was able to transmit her spirits because she felt had the experience before it became popular as now.



====Terjemahannya======

Rossa tengah menjajal pekerjaan baru diluar aktifitasnya sebagai penyanyi. Memang tidak jauh dari dunia musik karena mencoba jadi produser album religi bertajuk Sang Penciptaku Volume II.

Album tersebut dirilis oleh 512 Production, sebuah label rekaman yang didirikannya bersama seorang teman. Pengisi albumnya bukan sembarang penyanyi, karena mereka adalah para pemain sinetron yang dinilai berpotensi di bidang tarik suara. Mereka adalah Intan Nuraini, Revalina S. Temat, Asmirandah, Melanie Putria, dan beberapa penyanyi lainnya. Menurut Rossa, ini merupakan salah satu langkah yang ditempuhnya untuk membantu regenerasi di bidang musik. Disamping itu, secara bisnis hal ini lebih menguntungkan karena nama artis-artis itu sudah dikenal publik sehingga promosinya lebih mudah.

Rossa juga mengungkapkan, semua artis di bawah labelnya itu akan memulai karir di bidang tarik suara dari nol. Dia berharap agar semuanya serius menekuni bidang barunya tersebut. Memang butuh perjuangan berat, tapi Rossa merasa bisa menularkan semangatnya karena dirinya merasa punya pengalaman sebelum menjadi populer seperti sekarang.

Rabu, 15 April 2009

Kisah dibalik Lagu Terakhir 'Sang Merpati Putih' - Chrisye sebelum wafat

Entah mengapa, di pagi hari ini aku tiba-tiba googling tentang cerita dibalik lagu "LIRIH" Chrisye. Dan berikut ini adalah kutipan selengkapnya mengenai kisah dibalik usaha Chrisye menyanyikan lagu terakhirnya tepat 2 minggu sebelum beliau Wafat.

Hanya beberapa kawan dekatnya yang tahu bahwa penyanyi legendaris Chrisye, ketika sakit parah, sempat menyanyikan sebuah lagu baru di studio rekaman, tiga pekan menjelang wafatnya. Sebuah lagu yang sedang akan menjadi sejarah.

ChrisyeBerita eksklusif ini diliput dan ditulis oleh Suhunan Situmorang di Jakarta. Sepengetahuanku dan Suhunan, belum ada situs web, blog, media cetak, maupun televisi yang memberitakan kisah ini. Selamat menikmati sajian khusus dari Blog Berita Dot Com.

SAMA SEKALI TAK mampir di pikiran Aryono Huboyo Djati, lagu ciptaannya akan menjadi tembang terakhir yang dinyanyikan Chrisye. Penggubah lagu ‘Burung Camar’ itu memang tahu kondisi kesehatan Chrisye memburuk, hanya menunggu keajaiban, walau tak menyangka akan secepat itu berpulang.

Tak ada yang tahu — bahkan Damayanti Noor (Yanti), istri Chrisye, dan Acin, pemilik Musica Record — tiga pekan sebelum kepergian sahabatnya itu, sengaja ia “culik” Chrisye dari rumahnya untuk merekam lagu tersebut. Agar dibolehkan keluar rumah, kepada Yanti ia katakan akan membawa Chrisye melakukan terapi pengobatan alternatif di suatu wilayah Jakarta. Padalah, lepas senja itu, mereka berdua meluncur ke studio Musica, dan pulang ketika hari sudah malam.

Aryono Huboyo DjatiSetelah kurang lebih 23 tahun tak berkarya di bidang musik, sebuah lagu mendadak lahir dari kalbu Aryono. ‘Lirih’, judulnya. Saat menguntai nada-nadanya, di benak fotografer yang pernah mengundang decak kagum pengamat dan penggemar fotografi seantero negeri ini karena sebuah karyanya yang dipamerkan di hotel Nikko bisa terjual dengan harga 700 juta rupiah, hanya ada satu nama yang patut menyanyikannya: Chrisye.

Ia pun mencari akal, harus membohongi Yanti, sebab sadar, apapun alasan yang disodorkannya, Chrisye takkan mungkin dilepas untuk merekam sebuah lagu di studio rekaman dalam kondisi sakit seperti itu. Aryono sempat tercengang ketika Chrisye langsung menyetujui persekongkolan yang dibisikkannya. Bahkan di studio Musica, di tengah rasa sakit yang mendera tubuhnya, Chrisye tak hanya mempelajari notasi ‘Lirih’ dengan tekun, ikut pula melakukan perbaikan lirik agar lebih bertenaga dan sejiwa dengan “roh” lagu.

Bila suatu saat lagu itu anda dengar, saya yakin, takkan mudah percaya Chrisye menyanyikannya di kala kondisi tubuhnya sedemikian rapuh sembari menahan perih dan tinggal hitungan minggu meninggalkan dunia ini. Konsistensi suaranya tetap terjaga, bertenaga, subtil, selaras dengan nada lagu. Vokalnya yang menggetarkan estetika jiwa tak sedikit pun mengalami perubahan. Luar biasa! Bagaimana ia bisa melakukan itu?

“Chrisye memang seniman yang luar biasa, Bang,” ujar Aryono menanggapi ketakjubanku. Ia selalu memanggilku ‘Abang’ walau umurnya lebih tua, saya menyapanya ‘Mas’ sesuai tata krama Jawa. “Ia sangat profesional, sulit mencari tandingannya.”

Pengakuan doktor biologi kelautan dari sebuah universitas ternama di Jepang tetapi akhirnya “hanya” menekuni dunia fotografi itu, selama proses perekaman, tak sekalipun Chrisye mengeluhkan rasa sakit di tubuhnya. Malah bersikeras agar pengambilan vokal diulang hingga beberapa kali karena menurutnya belum memuaskan disebabkan tarikan napasnya yang tak lagi panjang seperti sedia kala, ketika masih sehat.

“Itulah yang selama ini paling saya kagumi dari diri almarhum,” imbuh lelaki kurus itu. “Komitmennya tak pernah goyah. Kalau sudah menerima suatu tawaran, dia tak pernah bekerja setengah-setengah. Padahal, kondisinya saat itu …”

Lagu berjudul ‘Lirih’ yang direkam tanpa sepengetahuan pemilik Musica itu baru diisi musik dasar piano yang dimainkan Aryono. Tak banyak yang tahu, ia amat piawai memainkan piano klasik dan jazz. Setelah halimun kabung yang menyelimuti keluarga Chrisye menguap perlahan-lahan, proyek rahasia Aryono dengan almarhum diungkapkannya pada Acin. Mulanya bos Musica itu tak percaya. Aryono pun memutar CD-nya.

“Gila lu, enggak ngasih tahu gue!” ujar Acin setelah mendengar lagu tersebut. “Aduh, gue sampe merinding mendengarnya…”

Bersama Acin, Aryono kemudian membawa lagu tersebut pada Yanti, sembari memohon maaf atas kebohongannya. Perempuan separuh baya yang begitu setia mengurus suaminya sebelum dan selama sakit itu meneteskan air mata saat nyanyian terakhir suaminya mengalun.

Kepada Acin, Aryono mengajukan satu syarat. Bila lagu tersebut dipublikasikan dalam album kompilasi lagu-lagu Chrisye yang sedang digarap Erwin Gutawa, maka yang mengaransemen musiknya harus Viky Sianipar. Mulanya Acin ragu karena terlanjur menganggap Viky hanya jago mengolah musik etnik, namun setelah diyakinkan Aryono dengan membeberkan fakta bahwa Viky termasuk langganan hajatan pesta musik jazz bertaraf internasional bertajuk ‘Java Jazz’, akhirnya setuju.

Kabar tersebut langsung disampaikan Aryono pada Viky. Musikus muda penganut aliran world music ini langsung jengah, selain tak percaya. Awalnya Viky tak bersedia menerima tantangan Aryono, semata-mata karena amat hormat pada Erwin Gutawa. Akhirnya mereka berdua sepakat, Viky sowan dulu ke musisi plus aranger yang, kepada saya, pernah diakui Viky amat kagum lewat album ‘Tribute To Koes’ dan album Chrisye ‘Badai Pasti Berlalu’ itu. Singkat cerita, di sela kesibukannya, antara lain menggarap dua lagu untuk album rohani Krisdayanti, Viky mulai mengerjakan musik dan aransemen lagu terakhir Chrisye tersebut.

Sejatinya, lagu dan lirik ‘Lirih’ menitis dari pengalaman pribadi Aryono. Fotografer yang jatuh cinta pada alam dan budaya Batak ini (sudah berkali-kali ia jelajahi Samosir, Toba, dan pernah pula menghadiri upacara ugamo Malim pimpinan Monang Naipospos, semua diabadikannya lewat potret-potret yang tidak saja indah tapi juga menakjubkan), ternyata baru mengalami patah hati dengan komunitasnya di alam maya sesama fotografer. Karena sebuah insiden, akhirnya ia mundur dari keanggotaan paguyuban para ‘Mat Kodak’ yang anggotanya puluhan ribu itu.

Surat elektronik pengunduran dirinya ditulisnya dalam bentuk puisi — yang kemudian menjadi lirik awal ‘Lirih’.

“Alasan yang agak sentimentil memang, tapi saat itu saya hanya mampu menulis surat seperti itu,” ujarnya untuk menjawab pertanyaanku, mengapa menulis surat berbentuk puisi. Rupanya, hatinya tengah gundah-gulana saat dan sesudah berselisih dan akhirnya memilih pisah dengan kawan-kawan virtualnya itu.

“Perasaanku campur-aduk. Kecewa, marah, sedih, sekaligus kangen, layaknya orang pacaran.” Jujur diakuinya, sebetulnya amat berat di hatinya meninggalkan komunitas berinisial ‘FN’ itu.

Chrisye mendengar curahan hati Aryono, walau kemudian memoles lirik ‘Lirih’ seakan sebuah kisah dua insan yang memilih berpisah kendati memedihkan hati.

Viky Sianipar sudah mengemas notasinya lewat iringan piano dan orkestra digital dengan rima mellow hingga makin berjiwa, dan sublim. Ketika pertama kali diperdengarkan Aryono ke telingaku, suatu malam menjelang pagi di studio Viky, saya benar-benar takjub dan merinding.

Tembang sedih itu dialunkan Chrisye begitu indah. Vokalnya masih seperti dulu, ketika tahun 1979 untuk kali pertama kudengar dan baru kutahu di negeri ini ada seorang biduan bersuara unik bernama Chrisye, yang menyanyikan ‘Merpati Putih’ sepenuh hati hingga langsung membius jiwa dalam album soundtrack film ‘Badai Pasti Berlalu’.

Alangkah beruntungnya kau, Aryono, menggubah sebuah lagu yang menggetarkan kalbu untuk dilantunkan sang legenda, dan itu adalah nyanyiannya yang terakhir. [www.blogberita.com]

CATATAN BLOG BERITA DOT COM:
SUHUNAN SITUMORANG novelisSuhunan Situmorang adalah seorang advokat idealis yang bekerja pada firma hukum Nugroho Partnership, pengarang novel, serta penikmat seni dan lagu-lagu rock hingga uning-uningan [musik gendang tradisional Batak]. Ia putra Samosir, pulau indah di tengah Danau Toba; menetap di Jakarta bersama tiga anaknya — Jogi, Tesa, dan Ayu — dan istri yang cuma satu. Foto Suhunan di sebelah ini adalah karya fotografer Aryono Huboyo Djati. Maaf kepada Bang Aryono karena foto ini telah “kurusak” dan kugunting dengan sewenang-wenang sehingga tak lagi seindah aslinya. :D


Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com. []